Pages

Jumat, 09 November 2012

HARI PAHLAWAN, JANGAN SEKEDAR SEREMONIAL



“Selama banteng-banteng Indonesia masih mempunyai darah merah yang dapat membikin secarik kain putih menjadi merah dan putih, maka selama itu tidak akan kita mau menyerah kepada siapapun juga. Kita tunjukken bahwa kita ini benar-benar orang-orang yang ingin merdeka. Dan untuk kita saudara-saudara, lebih baik hancur lebur daripada tidak merdeka. Semboyan kita tetap “Merdeka atau Mati”. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar!! Merdeka!!”

Yang suka baca sejarah pasti tau donk pidato siapa ini? Yaps, ini adalah petikan pidato Bung Tomo, salah satu pahlawan Indonesia yang telah mengobarkan semangat jihad bangsa Indonesia melalui orasi dan pekikan takbirnya. Pidato Bung Tomo menjelang 10 November 1945 itulah yang berhasil membangkitkan keberanian arek-arek Suroboyo, dari rasa takut yang mencekam untuk bangkit melawan kezaliman.
Kalo ngomongin pahlawan, pasti dalam fikiran kita terlintas "pasti keren deh kalo aq yang jadi pahlawan", karena pahlawan adalah tokoh utama yang banyak diceritain pada suatu cerita. Pahlawan adalah sosok yang cool n super keren. Dia adalah sosok yang bisa memberi motivasi dan inspirasi pada siapapun.
Nah, yang jadi pertanyaan nih sob, bisa nggak kita ngambil inspirasi dan motivasi dari Bung Tomo yang sangat luar biasa tersebut? Jangan-jangan peringatan hari pahlawan 10 November ini hanya jadi seremonial belaka?

Kalo Bung Tomo dulu musuh utamanya adalah Jepang yang menjajah Indonesia, maka generasi kita sekarang musuh utamanya udah beda bro..! Musuh utama kita sekarang adalah ideologi kapilatis, demokrasi dan konco-konconya yang didalangi oleh Amerika dan beberapa negara di Eropa.
Eits... jangan kaget dulu! Emang sih demokrasi udah ditanamin di otak qta dari waktu SD dulu ampe SMA bahkan kuliah pun masih di jejali dengan yang namanya demokrasi. Tapi kalian paham nggak? Demokrasi itu bak racun yang sangat mematikan. Coba liat aja dinegara yang menjadi mbahnya demokrasi. Mereka berkoar-berkoar dengan mulut berbusa bahwa Demokrasi menjamin kesetaraan dan keadilan namun di Eropa banyak larangan bagi wanita muslim untuk mengenakan jilbab, bahkan yang mengenakan jilbab didenda 29 euro (Republika, 20/05/11).

Banyak penghinaan terhadap kekasih kita yang mulia, baginda Muhammad SAW. baik itu berupa karikatur, film yang dilakukan oleh orang-orang kafir dengan dalih kekebasan berekspresi. Namun mereka dengan sigap menjerat setiap orang yang menyoal masalah pembantaian orang Yahudi (holocaust). Demokrasi cara yang digunakan orang kafir untuk menginjak-injak Islam atas dalih kebebasan.

Karena demokrasi pula nih, identitas kemusliman kita pun semakin terkikis, karena demokrasi menganggap kalo Allah nggak berhak ngatur manusia. Demokrasi menganggap kalo hubungan dengan Allah cuma pada waktu ibadah ritual doank sperti shalat, zakaat, puasa, haji, de el el. Demokrasi menganggap Allah nggak berhak ngatur ekonomi, hukum dan urusan-urusan lain yang menyangkut kenegaraan. Akibatnya, manusia ngatur urusan mereka sendiri. Boro-boro masyarakat mau bahagia, yang pasti malah sengsara. Mau buktinya? Akibat aturan buatan manusia yang ada di Indonesia ini 85% hasil tambang kita dimiliki oleh asing (Amerika, Inggris, dll). Kita cuma dapat 15% dari hasil bumi kita sendiri, itu pun masih di korupsi di sana-sini. Hadeh... >.<.
Akibatnya kemiskinan terjadi di sana-sini, pelacuran menjadi kerjaan sehari-hari karena lapangan pekerjaan nggak memadai. Kalo kita runut satu persatu, kesalahan yang fatal yang menyebabkan berbagai penyimpangan sosial adalah kesalahan dibidang hukum or sistem. Kalo aturannya salah, otomatis yang diatur pun akan menjadi biang masalah.
Padahal nih bro, Islam tuh ngatur semua hal. Mulai kita bangun tidur ampe kita tidur lagi, Islam juga ngatur tata cara bersuci ampe ketata negaraan. Misal nih, Rasulullah SAW. pernah bilang gini :
Kaum muslim berserikat dalam tiga hal: padang rumput, air dan api (HR Abu Dawud dan Ahmad)
An-nâr (api) dalam hadits ini juga mencakup semua sumber energi termasuk migas. Jadi, menurut syariah sumber migas adalah milik publik, milik seluruh rakyat. Jadi kalo aturan Islam yang dipake, nggak ada istilahnya migas mahal. J
Kembali ke masalah pahlawan nih, kalo dulu Bung Tomo menghadapi penjajahan fisik, kita sekarang sedang menghadapi penjajahan sistemik. Indonesia sekarang masih merupakan jajahan dari imperium asing. Mau melihat faktanya? Ada cara yang paling sederhana dan mudah, lihatlah film pendek karya John Pilger berjudul Globalisation: The New Rulers of the World. Dalam film ini, Pilger dengan jujur memotret dan menelanjangi apa yang disebut sebagai “Globalisasi" dan dampaknya bagi rakyat Indonesia yang sangat dahsyat berupa kemiskinan dan ketidakadilan.
Globalisasi sesungguhnya hanyalah bungkus baru bagi “bangkai lama” bernama Kolonialisme dan Imperialisme. Lebih setengah abad lalu, Keduanya merupakan konsekuensi logis dari sistem kapitalis yang tengah berkembang dengan cepat di Amerika dan Eropa. Ada tiga hal yang diperlukan kaum kapitalis dunia di saat sistem mereka maju dengan cepat, yakni sumber bahan mentah yang berlimpah, tenaga kerja yang banyak dan murah, serta pasar yang luas. Dan di Indonesia, semuanya dengan sempurna telah tersedia.
Indonesia, sampai sekarang masih terjajah. Hanya Islam yang mampu membebaskannya dari segala belenggu penghambaan terhadap sesama mahluk.
So, supaya hari pahlawan ini nggak jadi seremonial belaka, kita harus membangkitkan semangat 'Bung Tomo' pada diri kita. Kita harus lepas dari cengkeraman penjajahan kapitalis yang menyebabkan krisis multi dimensi. Mari kita contoh Bung Tomo dengan memekikkan Takbir dan membangkitkan semangat serta menyadarkan bangsa Indonesia terhadap penjajahan.
Hidup adalah pilihan! Jangan sampai kita cuma jadi penonton. Jadilah pahlawan dan pejuang yang bisa membebaskan negeri ini dari penjajahan.
Allahu Akbar!! Mari kita bersama-sama mengusir hegemoni kapitalis yang telah menyengsarakan bangsa ini!
Allahu Akbar!! Mari kita satukan tekad, satukan langkah untuk memperjuangkan tegaknya sistem Islam demi kejayaan bangsa ini.
Kematian pasti akan datang, lebih baik mati dalam keadaan berjuang, dari pada mati dalam keadaan tidak beramal.

0 komentar:

Poskan Komentar